Memahami Produk Keuangan dengan Kombinasi Produk Lain
Pahami Beberapa Produk Keuangan yang Dibutuhkan via licdn.com
Saat
ini masyarakat Indonesia seringkali dibuat rancu dengan banyaknya
produk keuangan yang mengatasnamakan tabungan, investasi, dan asuransi.
Saking bingungnya, mereka juga tanpa sadar seringkali melakukan
kesalahan dalam membuat perencanaan keuangan. Tujuan keuangan yang
harusnya dipersiapkan dengan investasi, justru mengambil produk
asuransi. Saat butuh proteksi, ternyata yang diambil malah tabungan
investasi. Hal ini memang kurang lebih merupakan kontribusi dari pihak
bank, perusahaan asuransi dan juga penyedia layanan investasi yang
melakukan branding produk kombinasi tanpa edukasi yang benar kepada masyarakat.
Coba
amati di sekitar lingkungan tempat tinggal Anda. Ada begitu banyak
ragam produk perbankan dengan berbagai kemasan dan iming-iming yang
mencuat ke peredaran. Promosi produk mulai dari tabungan berhadiah
elektronik, gadget, ibadah haji, atau pun rumah dan mobil mewah sekilas
terlihat sangat menggiurkan. Ditambah lagi produk kreatif lainnya yang
bermunculan dalam bentuk tabungan yang dipaketkan dengan perlindungan
asuransi, baik asuransi jiwa ataupun kesehatan; hasil kerjasama pihak
bank dengan perusahaan asuransi tertentu dan bahkan ada juga yang
dikombinasikan dengan paket investasi. Semakin membingungkan, bukan?
Pada
umumnya, masyarakat mengambil produk keuangan atas dasar prospek dari
marketing bank atau agen asuransi. Produk kombinasi seperti tabungan
yang dijadikan bundling dengan asuransi jiwa biasanya berupa
tabungan dengan sistem kontrak, banyak dijual oleh bank umum nasional.
Selain itu, asuransi jenis ini dapat ditemukan di Bank Mandiri (Mandiri Tabungan Rencana), CIMB Niaga (Tabungan Mapan),
Bank OCBC NISP (Tabungan Taka), BNI (Tabungan Rencana Pintar) dan
sebagainya. Tabungan-tabungan jenis ini sebenarnya untuk melindungi
nasabah dari keinginan untuk mengambil dana sebelum masa kontrak selesai
sehingga tujuan keuangan jadi gagal tercapai. Untuk lebih menarik
sebagian dari dana simpanan dialokasikan dalam bentuk premi asuransi.
Baca Juga: Kenali 7 Jenis Tabungan Di Indonesia Ini Agar Tidak Salah Pilih
Ilustrasi Produk Keuangan Tabungan dan Asuransi
Penggambaran Contoh Produk Keuangan Tabungan dan Asuransi via windows.net
Mari
kita ambil contoh, misalnya, Tabungan Rencana Pintar yang diproduksi
oleh Bank BNI bekerjasama dengan perusahaan Sun Life Financial. Tabungan
ini memberikan syarat kepada nasabahnya untuk menabung selama 10 tahun.
Nasabah tabungan ini sekaligus memperoleh perlindungan asuransi jiwa.
Masa kontrak 10 tahun inilah yang menjadi ciri khas produk asuransi
dalam bentuk proteksi jangka waktu tertentu.
Kewajiban
dari nasabah itu sendiri adalah menabung setiap bulan sebesar Rp334.000
selama 10 tahun, dengan kontrak selama 17 tahun. Jika diakumulasikan
dalam jangka waktu kontrak tersebut, dana tunai nasabah yang terkumpul
adalah Rp40,8 juta. Bagaimana jika klausul ini tidak bisa dipenuhi oleh
nasabah? Karena bersifat tabungan kontrak nasabah tidak dapat menarik
tabungannya setiap saat melainkan diatur sesuai dengan kebijakan.
Hasil
simulasi terkait kasus ini menunjukkan bahwa, jika nasabah ingin
menarik dananya, maka dia baru bisa mulai menarik tabungan setelah tahun
ke-5 sebesar Rp5 juta, lalu di tahun ke-11 senilai Rp7,5 juta, tahun
ke-14 sebesar Rp12,5 juta, dan diakhir kontrak yaitu tahun ke-17 sebesar
Rp25 juta. Dengan demikian total dana yang bisa ditarik adalah Rp50
juta. Karena sudah di atur dalam kontrak maka nasabah tidak bisa sesuka
hati mereka untuk mengambil dana simpanan.
Baca Juga: Unit Link : Fasilitas, Keunggulan, dan Cara Kerjanya
Kelebihan dan Kekurangan Produk Keuangan Kombinasi
Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Produk Keuangan Kombinasi via wynnnetworkassociates.com
Salah satu tujuan bank dan maskapai asuransi melakukan kombinasi produk tabungan, asuransi, dan investasi adalah untuk menarik minat nasabah. Namun demikian, produk tabungan yang di-bundling
(digabung) dengan asuransi tersebut belum tentu menarik minat nasabah.
Peru diingat, sebelum memutuskan memilih produk tersebut, ada baiknya
untuk mempertimbangkan kembali kebutuhan dan tujuan finansial Anda.
Untuk
menarik minat nasabah, paket tabungan maupun investasi sering dikaitkan
dengan bonus yang berupa nasabah dilindungi dengan asuransi jiwa,
sehingga jika nasabah meninggal dalam masa kontrak, ahli waris akan
memperoleh uang pertanggungan misalnya sebesar Rp50 juta. Apabila kita
lihat uraian di atas, jika nasabah tetap hidup sampai akhir masa
kontrak, maka nasabah hanya memperoleh Rp50 juta. Menarik?
Disisi
lain, jika Anda membutuhkan asuransi jiwa, ada satu pertanyaan yang
sedikit menggelitik, yaitu apakah pertanggungan Rp50 juta atau Rp100
juta sudah tepat? Atau bahkan bisa saja Anda justru membutuhkan
pertanggungan Rp1 milliar. Skema tabungan asuransi ini tentu bukanlah
pilihan bijak jika pertanggungan hanya Rp50 juta yang dikemas dalam
bentuk produk tabungan.
Ingat Kembali Tujuan Keuangan Anda
Tetapkan Tujuan Keuangan Anda via argeltiburcio.com
Untuk
kesekian kalinya, nasabah perlu mengingat kembali tentang tujuan
keuangan mereka sebelum akhirnya mengambil produk keuangan apakah yang
dirasa cocok untuk mengembangkan aset yang dimiliki, atau untuk dana
pendidikan, persiapan menikah, pembayaran uang sekolah, biaya pengobatan
atau yang lainnya.
Jika
tujuannya untuk pengembangan aset, maka menabung bukanlah jalan yang
tepat. Anda harus memilih instrumen investasi yang juga sesuai kemampuan
keuangan Anda. Dalam hal ini, pilihan investasi reksa dana, obligasi,
atau saham dapat dipertimbangkan. Jika tujuan anda untuk keperluan
jangka pendek atau persiapan dana darurat, maka produk tabungan tepat
untuk diambil. Dan jika tujuannya untuk persiapan dana darurat jika
terjadi sakit resiko kecelakaan atau bahkan meninggal dunia, maka paket
asuransi lebih cocok untuk diambil.
Misalnya
saja seperti uraian kasus di atas, Anda hanya mampu menyisihkan
Rp334.000 sebulan. Jika anda amati, tren investasi reksa dana dengan
tingkat pengembalian reksa dana saham selama ini yang rata-rata di atas
20% per tahun, dapat dihitung bahwa dengan menaruh uang tersebut di
reksa dana saham secara rutin setiap bulan, Anda akan memperoleh
setidaknya Rp127,7 juta di akhir tahun ke-10. Tentu ini perhitungan
kasar dengan asumsi nilai imbal balik seperti asumsi diatas.
Baca Juga: Tujuan Keuangan: Bagaimana Cara Menyusunnya?
Pelajari Karakter Setiap Produk
Ketahui Karakter Setiap Produk Keuangan via collegenet.com
Tiap
produk keuangan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Produk
tabungan contohnya. Ada yang berupa tabungan biasa yang bisa diambil
setiap saat, ada juga dengan sistem kontrak seperti deposito. Sedangkan
investasi reksa dana, memang dapat dicairkan kapan saja, tanpa dibatasi,
tetapi jika dilihat dari imbal balik nilai investasi hasil reksa dana
pun akan berpotensi jauh lebih besar jika Anda meneruskan investasi
tersebut ke tahun-tahun berikutnya.
Dalam hukum investasi, berlaku high risk, high return,
yang artinya adalah semakin besar imbal balik, maka makin besar pula
risikonya. Dengan potensi pendapatan yang lebih besar, risiko reksa dana
memang lebih besar dibanding tabungan. Akan tetapi dengan strategi yang
baik, Anda dapat ikut mendulang manisnya rezeki dari produk investasi
reksa dana.
Pilih yang Paling Sesuai dengan Anda
Sekarang saatnya untuk memilih
apakah mau menggunakan tabungan, produk investasi, atau asuransi.
Setelah mengetahui poin-poin penting yang telah kami sampaikan di atas,
pasti Anda bisa menyimpulkan salah satu produk yang sekiranya paling
sesuai dengan Anda. Dalam menentukan pilihan, hal yang terpenting adalah
mengerti kemampuan keuangan diri sendiri. Jangan sampai Anda mengambil
suatu produk tanpa persiapan matang, dan pada akhirnya malah Anda
mengalami kerugian.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar