A.TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.Teori Klasik
Menurut teori klasik, pengambilan keputusan itu haruslah bersifat rasional.Keputusan itu diambil dalam situasi yang serba pasti, pengambil keputusan harus memiliki informasi sepenuhnya dan menguasai permasalahannya. Teori pengambilan keputusan ini mendasarkan diri pada asumsi dari orang yang mempunyai pikiran ekonomi rasional untuk mendapatkan hasil atau manfaat yang semaksimal mungkin.Segala sesuatu itu mengarah pada kepastian.Kritik terhadap teori ini antara lain adalah pengambilan keputusan itu harus berorientasi pada ‘apa yang seharusnya dilakukan’ bukan pada ‘apa yang ia ingin lakukan’. Kritik berikutnya adalah kita ini tidak selalu serba mengetahui dengan pasti; ada hal-hal yang belum kita ketahui dengan pasti.
2.Teori Perilaku
Teori perilaku (behavioral theory) disebut juga Administrative man theory. Pada pokoknya, teori ini mendasarkan diri pada keterbatasan kemampuan pimpinan untuk berpikir rasional penuh dalam menangani masalah. Dari informasi yang ada dan beberapa alternative yang tersedia atau disediakan oleh unit pengolah data, maka apabila pimpinan telah merasa puas dengan salah satu alternative pemecahan masalah, maka alternative itulah yang dipakainya.
B.TINGKATAN KEPUTUSAN
Meskipun secara umum keputusan itu dibedakan dalam keputusan yang sederhana dan keputusan yang kompleks, namun dalam rangka penanganan keputusan yang lebih terinci perlu dibedakan lebih lanjut berdasarkan tingkatannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari agar keputusan yang dibuatnya tidak termasuk keputusan yang kurang tepat.Dalam hal ini Irwin D. Bross membedakan keputusan menurut tingkatannya ke dalam (1) keputusan otomatis, (2) keputusan memori, dan (3) keputusan kognitif.
1.Keputusan Otomatis
Pada dasarnya merupakan keputusan yang bersifat biologis atau fisis. Lebih tegasnya lagi keputusan otomatis ini adalah keputusan yang berdasarkan gerak reflex atau insting. Pada umumnya keputusan ini tidak berubah atau akan disempurnakan kembali karena bukan berdasarkan pikiran atau otak. Sebagai contoh sederhana kalau lebah membuat sarang, maka sepanjang masa sarang lebah tertentu akan berbentuk sama, tidak ada keinginan untuk mengubahnya agar misalnya lebigh artistic.Pengambilan keputusan otomatis ini merupakan pengambilan keputusan yang tingkatannya paling rendah (sederhana).Namun demikian pengambilan keputusan otomatis ini pun dapat diterapkan penanganan organisasi yang menyangkut peralatan mekanis. Dengan menggunakan computer misalnya, orang dapat memantau bermacam-macam proses kegiatan dalam pabrik. Misalnya pada pabrik bahan kimia, plastik atau penyaringan minyak banyak digunakan sistem pemantauan secara mekanis untuk menjamin keseragaman komponen peralatan dan aliran proses yang bercampur-baur tanpa mengalami kesulitan. Perusahaan industrI dapat saja menjalankan tugasnya dalam rangka pengendalian kualitas hasil industrinya dengan lebih baik.Misalnya perusahaan industri yang menghasilkan kawat baja dengan diameter tertentu dan dengan daya tahan tertentu dapat dipantau melalui kecanggihan computer, sehingga kualitasnya yang dikehendaki dapat tercapai dengan lebih mudah dan otomatis.Dengan menggunakan komputer pula pimpinan lebih mudah melakukan tugasnya.Namun tidak semua tugas dan pembuatan keputusan dapat dibantu dengan sistem komputer.
2.Keputusan Memoris
Keputusan tingkatan kedua ini semata-mata mendasarkan diri pada kemampuan mengingat akan wewenang dan tugas yang diberikan kepada yang bersangkutan. Dalam hal ini kemampuan pengingatan kembali (memori) sangat dibutuhkan untuk kelancaran pengambilan keputusan.Binatang yang termasuk ‘cerdas’ dapat dilatih untuk mengerjakan sesuatu.Lumba-lumba misalnya dapat dilatih untuk melacak dan mengamankan ranjau laut.Anjing dapat dilatih untuk mencari narkotika yang diselundupkan.Angsa dapat dilatih untuk ‘berteriak-teriak’ apabila menjumpai suatu gerakan yang mencurigakan.Melalui kemampuan instingnya mereka dapat dipertajam dengan latihan yang cukup intensif, dan diarahkan pada tujuan tertentu. Keputusan memorial ini pun dapat diterapkan dalam organisasi, yakni dapat dilakukan oleh misalnya juru rawat dengan batas-batas tertentu yang harus diingat mengenai seberapa jauh wewenangnya dalam menangani pasiennya.Apabila penyakit atau keadaan pasien itu melebihi batas wewenangnya, maka harus diserahkan kepada dokter untuk menanganinya.Jadi apabila melampaui batas wewenang juru rawat, maka kompetensi dokterlah untuk menangani pasien yang bersangkutan.Kebebasan dalam batas wewenang untuk mengambil keputusan ini terjadi pada setiap petugas atau pejabat dalam organisasi.
3.Keputusan Kognitif
Merupakan keputusan tingkat ketiga. Keputusan kognitif berarti keputusan yang pembuatannya berdasarkan ilmu pengetahuan, dan ini akan berhasil apabila pembuat keputusan itu meperhatikan factor lingkungan, pengetahuan dan pengalaman.Tetapi pengetahuan dan dasar pengalaman ini tidaklah selalu dapat dijadikan jaminan ketepatan pengambilan keputusan.Kalau semata-mata berdasarkan pengetahuan, segala keputusan dalam perusahaan hendaknya berorientasi pada pertimbangan keuntungan (ini menurut ilmu ekonomi).Namun dalam kenyataannya kadang-kadang keputusan bisnis didasarkan pada pertimbangan politik atau pertimbangan lainnya yang non-ekonomi. Banyak tindakan yang dilakukan atas dasar pertimbangan atau petunjuk Tuhan, tetapi lain kali keputusan atau tindakan menuruti ‘ajakan setan’. Jadi orang kadang-kadang selalu berbuat baik, tetapi di lain kesempatan tahu-tahu berbuat hanya menuruti hawa nafsu saja. Pengambilan keputusan yang bersifat kognitif dalam dalam suatu organisasi merupakan sebagian dari keseluruhan proses dalam organisasi tersebut. Proses dalam organisasi dimulai dengan penentuan tujuan dan diakhiri dengan pencapaian organisasi.
Dalam mencapai tujuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang salah satunya dikenal dengan Penelitian Operasional (Operation Research). Operation Research mulai dikenal dan dikembangkan pada saat perang dunia II berkecemuk di Inggris.Operation Research ini merupakan pendekatan ilmiah dan metodik untuk memecahkan permasalahan peperangan yang begitu kompleks.Prosedur operation research meliputi langkah-langkah dasar yang dimulai dengan penggambaran dan penentuan tujuan organisasi.Dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul, maka terlebih dahulu masalah-masalah tersebut perlu diidentifikasi, untuk kemudian dirumuskan permasalahn yang sesungguhnya.Dalam merumuskan masalah tersebut termasuk juga batas-batas permasalahannya yang serius.Setelah masalah dapat dirumuskan dengan jelas, maka kemudian dibuatkan bermacam-macam alternative pemecahannya.Tentu saja dalam pembuatan alternatif-alternatif keputusan itu diperlukan banyak informasi yang cukup relevan, sehingga alternatif pemecahannya dapat dikembangkan.Dari sekian banyak alternatif, kemudian pimpinan harus memilih satu alternatif satu alternative yang dianggapnya paling tepat untuk memecahkan masalah itu.Namun sebelum alternatif yang dipilihnya itu diputuskan dan dilaksanakan, maka lebih dulu dicek dan dites kemampuannya.Selanjutnya apabila dianggap cukup baik hasil pengetesannya, barulah dilaksanakan dan dikendalikan melalui pemantauan.Hasil pelaksanaan dan pemantauan itu dijadikan umpan balik, perbandingan.Apabila terjadi penyimpangan diambillah tindakan pembetulan.
Dalam operations research, berbagai tenaga yang mempunyai bermacam keahlian dibentuklah suatu tim (team of experts from different fields) untuk memecahkan masalah yang begitu kompleks. Tim tersebut sekaligus ditugasi untuk mengecek apakah keputusan yang dibuatnya itu pelaksanaannya dapat berjalan baik dan cukup sukses.Ilmu pengetahuan mengenai operation research itu terutama mendasarkan diri pada model matematika.
Penggambaran proses organisasi di mana pembuatan keputusan merupakan bagian di dalamnya dapat diberikan dengan lebih menekankan pada bagian dari proses pengambilan keputusan yang aktual, dengan menggunakan model masukan-keluaran. Masukan meliputi misalnya tujuan organisasi, kendala-kendala intern, criteria pelaksanaan, dan alternatif-alternatif pemecahan masalah.Sedangkan keluaran meliputi pelaksanaan keputusan dan pengendalian, serta umpan baliknya.
Dalam pengambilan keputusan macam ini pengaruh-pengaruh yang non ilmiah cukup dominan dalam memilih alternative mana yang dianggap paling tepat untuk memecahkan masalah yang timbul dalam organisasinya.
Kiranya perlu disadari bahwa baik keputusan pribadi maupun keputusan organisasi yang perlu dibuat itu sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan nilai-nilai yang kerap kali saling bertentangan, pengaruh politik, emosi, tingkat pendidikan, dan juga model keputusan factual.Pemecahan masalah yang terbaik bukan dipilih berdasarkan keinginan pengambil keputusan, tetapi lebih ditekankan pada alternative pemecahan yang dapat diterima dan yang telah diseleksi betul.
Menurut Terry, pengambilan keputusan itu meliputi dua alternative atau lebih mengingat apabila hanya dibuatkan saru alternatif saja, maka keputusan belum tentu dapat dibuat dengan baik. Berikut ini diberikan diagram untuk pengambilan keputusan berdasarkan penyajian lima alternatif.
C.MODEL KEPUTUSAN
Hornby menyatakan bahwa model merupakan percontohan yang
mengandung unsur yang bersifat menyederhanakan, untuk ditiru (kalau perlu). Dari ungkapan tadi itu sebenarnya dapat diartikan bahwa keadaan masyarakat itu cukup kompleks sehingga tidak mudah untuk diketahui dengan pasti, tidak dapat diketahui dengan baik. Namun untuk mengetahuinya, perlulah disederhanakan dalam bentuk model.Model itu sendiri tetap mendasarkan diri pada unsur-unsur yang relevan dan dominan sehingga penyajiannya tetap representatif.Model merupakan sesuatu hal yang bersifat fundamental dalam menganalisis kebijakan pemerintah.Meskipun belum tentu dapat meramalkan konsekuensi dari keputusan yang dibuat berdasarkan model itu, namun dengan menggunakan model dapatlah kiranya dibayangkan kemungkinan-kemungkinannya setelah kita mengetahui informasi-informasi disertai dengan asumsi-asumsi. Dengan cara demikian itu nampaknya akan lebih jelas keadaannya, dan ke arah mana kemungkinan dapat terjadi.
Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan proses berurutan yang membutuhkan penggunaan model yang tepat. Pengambil keputusan berusaha menggeser keputusan yang semula tanpa perhitungan menjadi keputusan yang penuh perhitungan.
Dalam analisis pengambilan keputusan itu ternyata semuanya menggunakan model paling tidak secara implisit. Mengenai hal ini Hovey memberi contoh mengenai pengecatan gedung sekolah. (E.s. Quade, Analysis for Public Decisions, Elseier North Holland Inc., New York, 1977, hlm. 141)
1.Pengecatan gedung sekolah yang kotor dan tidak merata, secara tidak langsung dapat berakibat kurangnya konsentrasi belajar para siswanya;
2.Pengecatan gedung sekolah yang tidak merata dan kotor pun, secara tidak langsung berakibat kurangnya konsentrasi mengajar para guru sekolah yang bersangkutan;
3.Begitu pula pengecatan gedung sekolah yang tidak merata dan kotor, akhirnya justru akan menyebabkan sekolah terpaksa mengeluarkan biaya yang lebih banyak lagi (untuk membetulkan pengecatan);
4.Pengecatan yang baik dan benar, perlu dilakukan dengan perubahan warna setiap dua tahun sekali. Pengecatan dengan cara demikian itu akan meningkatkan konsentrasi: belajar para siswa dan mengajar para guru sekolah yang bersangkutan;
5.Pengecatan gedung sekolah itu ada dalam keadaan baik dan tepat, apabila dilakukan setiap dua tahun sekali.
Dari uraian tersebut, empat butir pertama masing-masing mendasarkan diri pada model yang berbeda, tetapi secara implisit menunjukkan adanya hubngan antara pengecatan dan pendidikan atau pelaksanaan pendidikan.Model kelima merupakan praktik pengecatan itu sendiri (sebaiknya dilakukan dua tahun sekali).
Alasan-alasan yang dikemukakan pada butir (1) dan (2) dapat dibenarkan oleh Yayasan Sekolah.Butir (3) merupakan model penarikan kesimpulan secara teknis mengenai hubungan antara pengecatan dan struktur; jadi diluar prinsip-prinsip keahlian.Butir (1) dan (2) menghuungkan antara pengecatan dengan pelaksanaan kegiatan siswa dan kegiatan guru.
Model yang baru dikemukakan tersebut termasuk dalam kategori atau jenis model verbal, karena disitu ditunjukkan adanya rumusan atau hubungan sebab-akibat secara verbal (meskipun dalam buku ini terpaksa dinyatakan secara tertulis).
Pada umumnya semua model ini mempunyai aspek-aspek tertentu. Masing-masing adalah idealisasi, atau abstraksi dari bagian dunia nyata (praktik nyata), atau dengan kata yang lebih tepat dan jelas: imitasi dari kenyataan. Mengenai hal ini Olaf Helmer menyatakan bahwa: karakteristik dari konstruksi model adalah abbstraksi; elemen-elemen tertentu dari situasi mungkin dapat membantu seseorang menganalisis keputusan dan memahaminya dengan baik. Untuk mnegadakan abstraksi, maka pembuatan model seringkali dapat meliputi perubahan konseptuan.Setiap unsur dari situasi nyata merupakan tiruan dengan menggunakan sasaran matematika atau sasaran fisik. Hubungannya dengan unsur lain mencermikan adanya kekayaan atau peralatan dan hubungan lain berupa tiruan. Sebagai contoh, sistem lalu lintas kota dapat dibuat tiruannya dengan membuat miniatur yang menggambarkan adanya jaringan jalan-jalan, rambu-rambu lalu lintas, beserta kendaraan persis seperti sesungguhnya. Model yang berupa pengalihan ke dalam abstraksi tersebut dinamakan model simulasi.
Mengenai klasifikasi model, Quade membedakan ke dalam dua tipe yakni model kuantitatif dan model kualiatif.
Model kuantitatif (dalam hal ini adalah model matematika) adalah serangkaian asumsi yang tepat yang dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti.Ini dapat berupa persamaan, atau analisis lainnya, atau merupakan instruksi bagi komputer, yang berupa program-program untuk komputer. Adapun ciri-ciri pokok modle ini ditetapkan secara lengkap mengenai asumsi-asumsi dan kesimpulannya berupa konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tanpa menggunakan pertimbangan intuisi mengenai proses dunia nyata (praktik) atau permasalahan yang dibuat model untuk pemecahannya.
Kadang-kadang kesimpulan dibuat oleh pembuat keputusan atau oleh analisnya dengan menggunakan model analitik yang tidak mengikuti konsekuensilogis dari asumsu-asumsi yang dijadikan model.
Model kualitatif didasarkan atas asumsi-asumsi yang ketepatannya agak kurang jika dibandingkan dengan model kuantitatif dan ciri-cirinya digambarkan melalui kombinasi dari deduksi-deduksi asumsi-asumsi tersebut dan dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses atau masalah pemecahannya dibuatkan model.
Mengingat begitu banyaknya cara lain untuk mengadakan klasifikasi model, dibawah ini disampaikan beberapa klasifikasi saja. Klasifikasi model dapat dilakukan berdasarkan:
1.Tujuannya: model latihan, model penelitian, model keputusan, model perencanaan, dan lain sebagainya. Pengertian tujuan disini adalah dalam arti purpose;
2.Bidang penerapannya (field of application): model tentang transportasi, model tentang persediaan barang, model tentang pendidikan, model tentang kesehatan, dan lain sebagainya;
3.Tingkatannya (level): model tingkat manajemen kantor, tingkat kebijakan nasional, kebijakan regional, kebijakan lokal, dan lain sebagainya.
4.Ciri waktunya (time character): model statis dan model dinamis;
5.Bentuknya (form): model dua sisi, satu sisi, tiga dimensi, model konflik, model nonkonflik, dan lain sebagainya.
6.Pengembangan analitik (analytic development): tingkat dimana matematika perlu digunakan, dan lain-lain.
7.Kompleksitas (complexity); model sangat terinci, model sederhana, model global, model keseluruhan, dan lain-lain.
8.Formalisasi (formalization): model mengenai tingkat dimana interaksi itu telah direncanakan dan hasilnya sudah dapat diramalkan, namun secara formal perlu dibicarakan juga.
Model Probabilitas.Umumnya model-modelkeputusan merupakan konsep probabilitas dan konsep nilai harapan memberi hasil tertentu (the concept of probability and expected value).
Adapun yang dimaksud dengan probabilitas adalah kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu peristiwa tertentu (the cange of particular event occuring).Misalnya kartu bridge terdiri atas 52 buah kartu; berarti tiap-tiap kartu hanya memiliki kemungkinan 1/52.Kartu heart 1 (jantung merah 1) hanya memiliki kemungkinan 1/52.Begitu pula halnya dengan dadu berisi 6, masing-masing sisi hanya memiliki kesempatan atau lemungkinan 1/6 untuk menang.
Model Matriks, selain model probabilitas dan nilai harapan (probability and expected value), ada juga model lainnya. Model lain tersebut misalnya adalah model matriks (The Payoff Matrix Model).
Pada model matriks merupakan model khusus yang menyajikan kombinasi Antara Strategi yang digunakan dan Hasil yang diharapkan.
Model matriks terdiri atas dua hal yakni garis dan lajur. Baris (row) bentuknya mendatar, sedangkan lajur (coloum) bentuknya menegak (vertical). Pada sisi baris berisi macam alternative strategi yang digelarkan oleh pengambil keputusan, sedangkan pada sisi lajur berisi kondisi dan nilai harapan dalam kondisi dan situasi yang berlainan. Contoh dibawah ini menggambarkan adanya strategi yang berbeda-beda dalam konsep atau pandangan ekonomi yang bervariasi.
Model Pohon Keputusan (Decision Tree Model)
Pada model ini merupakan suatu diagram yang cukup sederhana yang menunjukkan suatu proses untuk merinci masalah-masalah yang dihadapinya kedalam komponen-komponen, kemudian dibuatkan alternative-alternatif pemecahan beserta konsekuensi masing-masing.
Dengan demikiann maka pemimpin tinggal memilih alternative mana yang sekiranya paling tepat untuk dijadikan keputusan.
Mengenai pohon keputusan, Bryant dan white mengatakan:
Tree diagramming is a process that can be used to specify components of a problem an is particularly useful when project design is carried out.
Jadi pohon keputusan ini biasanya dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam proyek yang sedang ditangani. Selanjutnya Welch dan Comer memberikan definisi mengenai pohon keputusan (decision tree) sebagai berikut:
The decision tree is a sample diagram showing the possible consequences of alternative decisions. The tree includes the decision nodes chance Modes, payoffs for each combination, and the probabilities of each event.
Menurut Welch, ada 4 yang merupakan komponen pohon keputusan yakni: simpul keputusan, simpul kesempatan, hasil dari kombinasi dan kemungkinan-kemungkinan akibat dari setiap peristiwa yang terjadi. Hal yang kiranya penting dalam pohon keputusan adalah pengambilan keputusan itu harusnya secara aktif memilih dan mempertimbangkan betul-betul alternative mana yang akan dijadikan keputusan.
Tipe analisis pembuatan keputusan mana yang akan digunakan sangat tergantung pada kemungkinan-kemungkinan yang secara rasional dapat dikemukakan terhadap masalah yang dihadapinya. Untuk keperluan tersebut dibutuhkan informasi yang lengkap, up-to-date dan dapat dipercaya kebenarannya, sehingga memudahkan bagi pimpinan untuk mengambil keputusan dengan baik.
Pohon keputusan itu dinamakan juga diagram pohon karena bentuknya berupa diagram. Diagram ini bentuknya seperti pohon roboh. Diagram pohon ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan misalnya dalam pengambilan rancang bangun proyek (project design). Konsep proses ini pada dasarnya mengikuti teori sitem, dimana antara komponen yang satu dengan komponen yang lain merupakan mata rantai proses yang berkesinambungan, yang saling bergantung.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar